Hari Suci Bertabur Rezeki
Hari Suci Bertabur Rezeki
Sumber : muslimahdairy.com
Syiar takbir bergemuruh sejak sore tadi. Matahari telah berpamit turun
dari kaki langit. Bulan pun telah usai menyalakan sinarnya. Sementara aku,
sedari tadi hanya diam termenung menatap kosong ke luar jendela. Tak beranjak
selangkah pun dari ubin yang ku injak. Diam, tak terlontar sepatah kata.
Memandang begitu terangnya sinar rembulan. Senyum tipis pun akhirnya tergaris.
Sedikit berpikir, mengapa tak kudapati satu bintang di langit? Mengapa para
bintang tak menyebar rata malam ini? Atau apakah karena mereka tahu, bahwa ada
satu bintang di bumi yang sedang bersedih malam ini?, gumamku. Kurasa, dugaanku
benar. Esok adalah ketiga kalinya hari rayaku tanpa ayah dan ibu. Tak apa, yang
lain juga begitu. Meski dengan atap yang tak lagi menyatu, namun aku yakin, untaian
do’a kami terus mengalir bergantian. Ayah ibu, anak bungsumu rindu. Apa kabar?
Wahai orang yang paling tegar. Apakah disana ayah ibu merasakan hal yang sama?.
Kak Lutfi, apa kabar si pemilik wajah kembar? Do’a terbaikku selalu
menyertai kalian. Kuharap angin malam mengirimkan celetuk pesan ini kepada
kalian.
“Najma,
keluar yuk! Takbiran bareng teman-teman”. Rara mengagetkanku.
“Eh
iya, ra. Kamu duluan aja, ntar aku nyusul”, jawabku.
Selang
beberapa menit setelah lamunanku dikagetkan, aku beranjak menuju teras. Disana,
kudapati teman-teman bersenandung merdu menyiarkan takbir Idul Adha.
Beberapa yang lain terfokus berada dekat dengan alat pemanggang. Untaian
kalimat takbir memenuhi malam tak berbintang ini. Hingga tak kurasa, malam
berlalu begitu cepat. Kegiatan malam takbiran berakhir dengan makan bersama.
Kami kembali dengan rasa puas dan kenyang. Hingga tak kurasa, rindu dalam diri
ini perlahan memudar, melebur dengan suka-cita malam ini.
Hari
telah berganti nama. Di mana hari yang dinanti telah tiba. Hari ini adalah hari raya Idul
Adha. Tetapi diri ini merasa iba, sebab kurang afdhal rasanya bila
tak dapat kuikuti rangkaian sunnah-Nya. Masih sama seperti biasanya, aku terbangun sebelum fajar tiba. Kulihat sekelilingku ramai
orang bergegas sholat ied. Berbeda denganku, yang terpaksa harus menenangkan diri diam di
tempat karena sebuah halangan.
“Ayah, ibu, dan
kak Lutfi, selamat hari raya!” celetukku sembari melamun. Tak terasa,
subuh datang dengan adzan berkumandang. Aku masih sama seperti sekian
detik yang lalu, diam diatas kasur. Melihat teman-teman mengenakan mukena,
menyampirkan sajadah ke pundak mereka dan mulai turun melangkahkan kaki ke
lantai satu.
Satu menit
berlalu, suara iqomah berseru. Sholat jama’ah shubuh dilaksanakan. Dan
akhirnya, tubuh mungil ini berniat untuk bangun dari posisi membujur. Beranjak
mandi untuk menghilangkan hawa kasur. Tujuh menit adalah estimasi yang cukup
untuk memenuhi hajat diri di kamar mandi. Usai mandiku ternyata bersamaan
dengan usainya sholat jama’ah. Setelah itu, aku berganti baju dan berhias
sewajarnya untuk memantaskan diri di hari yang suci ini. Sembari ku ikuti
lantunan surah Al Waqiah dari teman-teman
santri.
Jarum jam berdetak
menunjukkan pukul 05.30, para santri yang tak udzur mulai berangkat
menuju pondok induk untuk melaksanakan sholat ied.
“Najma, aku
berangkat dulu, ya. Assalamu’alaikum.” Pamit Adiba.
“Iya,
wa’alaikumussalam” jawabku singkat.
Satu, dua santri
beranjak pergi. Aku dan teman-teman lain yang udzur menghabiskan waktu
untuk diri kami sendiri. Atau bisa disebut me time, mungkin. Singkatnya,
dua jam berlalu. Teman-teman santri pun datang bersahutan. Setelah itu, kami
menyaksikan kurban sembari menyemarakkan takbir. Setelah penyembelihan
dilaksanakan, kami bergotong-royong membersihkan dan mengurus daging kurban.
“Qirani, minta
tolong daging yang ini diiris, ya. Mau dibikin sate soalnya. Nabila bagian yang
nusuk ya. Najma yang bikin konsum, ya. Oiya, kalian boleh ajak teman-teman yang lain,
kok” pinta nadia. Tugas dilaksanakan sesuai instruksi. Tanpa terasa, waktu
berjalan begitu cepat. Adzan dhuhur mengakhiri gotong-royong ini. Mengingatkan
kami untuk taqarrub dateng Ilahi. Setelah sholat, kami istirahat untuk mengumpulkan
tenaga untuk melanjutkan gotong-royong selanjutnya.
Dhuhur beranjak
ashar. Mentari pun mulai meriyib menuju maghrib. Malam pun datang disambut
dengan gemuruhnya takbir Idul Adha. Part dua
dimulai. Pada bagian ini, daging kurban yang telah diolah akan dibakar dengan
pemanggang buatan. Di tengah-tengah kegiatan, sontak aku teringat bahwa hari
ini adalah jadwal telepon kamar. Aku langsung berlari masuk menuju tempat antrean.
Yap, kudapati telepon tersebut tergeletak. Kuraih telepon tersebut dan mulai
mengetik nomor ibu. Dan Alhamdulillah, sekali misscall ibu menjawabnya.
Mungkin ikatan telepati antara ibu dan anak ini sangatlah kuat. Dan kami pun
mulai bercakap-cakap.
“Assalamu’alaikum,
bu.” Sapaku dalam telepon.
“Wa’alaikumussalam,
adek.” Jawab ibu.
“Ibu dan ayah apa kabar?”
“Alhamdulillah
sehat, dek. Adek gimana? Sehat, kan? Lagi apa, dek?”
“Alhamdulillah,
bu. Adek sehat, ini lagi bakar-bakar bareng yang lainnya”
...
Percakapan kami terus
berlangsung. Tanpa sadar, air mataku jatuh karena sudah tak cukup lagi
dibendung. Tangisku pecah membasahi percakapan kami.
“Ibu, adek rindu.
Sebulan liburan tapi tak boleh pulang, bu. Ayah dan ibu gak rindu?” tanyaku.
“Kalau rindu ya
pasti, nak cantik. Rindunya ayah dan ibu itu kita luapkan saat kerja. Semakin
hari, pastilah semakin rindu. Semakin semangat juga kerjanya” jawab ibu
“Kalau ayah dan
ibu rindu, kenapa ayah tidak menjemputku? Ayah dan ibu kuat menahan rindu? Adek
rindu, bu.” sifat childhisku mulai muncul.
“Anak cantik,
kalau ayah ibu kuat menahan rindu, berarti adek juga harus kuat. Kan ini juga
buat masa depannya adek. Adek, niat ayah dan ibu naruh adek disitu bukan karena
kita gak sayang sama adek. Andai ilmu ayah dan ibu tinggi, pasti adek bakal
dididik sendiri disini. Cari ilmu
banyak-banyak, nak. Gapai ridho para beliau. Raih cita-cita adek.” jawab ibu
menguatkanku.
“Idul Adha disana
nyembelih apa?” sahut ibu berusaha mengalihkan kesedihanku.
“Nyembelih dua
ekor kambing, bu” jawabku.
“Ekornya doang?”
canda ibu.
“Nggak dong, bu.
Ibu ma gitu.”
“Ibu, cerita nabi
Ismail sama nabi Ibrahim dong, bu” pintaku.
“Cerita lagi? Adek
setiap tahun selalu minta cerita itu.” Elaknya.
Entah mengapa
meski sudah berkali-kali aku mendengar berbagai cerita tentang asal-usul
kurban, tapi versi ibu selalu jadi nomor satu. Akhirnya, ibu pun memenuhi
permintaanku. Ia bercerita tentang asal-muasal kurban dengan gaya bahasanya.
Hingga dapat kusimpulkan bahwa salah satu hikmah berkurban adalah meneladani ketaatan
nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim sejak awal telah diuji oleh Allah Swt. dalam hal
keturunannya. Kemudian Allah Swt. mengutus nabi Ibrahim melalui mimpinya untuk
menyembelih putra semata wayangnya, nabi Ismail. Pelajaran lainnya adalah
meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dan membahagiakan kaum dhuafa’.
Empat belas menit
berlangsung begitu cepat, aku segera berpamit menutup percakapan kami sebelum
satu menit itu tiba. Karena pada peraturan diterangkan bahwa penggunaan telepon
tidak boleh lebih dari lima belas menit. Setelah meluapkan rasa rindu, aku
kembali bergabung dengan teman-teman yang lain. Perayaan Idul Adha
ini diakhiri dengan makan hasil panggangan kami.
Dari keluh, kesah,
suka dan cita perayaan ini, kudapatkan banyak tambahan pelajaran. Mulai dari
kekompakakan, kebersamaan, teladan dari kisah Nabi Ibrahim, dan masih banyak
lagi. Bertambahnya hari setelah hari ini, semangatku mengejar ridho-Nya semakin bertambah.
Dengan dukungan ayah dan ibu serta hikmah dari hari itu.
.jpg)


Komentar
Posting Komentar