Urgensi Silaturahmi Bagi Orang Beriman
(sumber gambar: google.com)
“Silaturahmi akan menjadi prioritas bagi orang yang beriman.” Tutur KH. Abdussalam Shohib, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang tatkala mengajarkan kitab At-Tibyan kepada para santrinya.
Masih hangat di telinga kita banyak orang yang saling
menyalahkan, mengklaim kebenaran, bahkan mengkafirkan. Akibatnya putusnya
hubungan persaudaraan di antara mereka. Padahal empat belas abad silam
Rasulullah Saw sudah mewanti-wanti umat muslim sekalian, beliau bersabda,
“Tidak ada dosa yang lebih patut bagi Allah SWT
untuk menyegerakan balasannyaterhadap pelakunya di dunia, di samping
Allah SWT juga menyediakan balasan di akhirat kecuali diperuntukkan untuk orang
yang berbuat kezaliman ( zina dan sebagainya ), memutus silaturahmi, khianat,
dan berdusta.”
Dari hadis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa memutus
silaturahmi mempunyai dampak negatif di dunia dan akhirat. Dan hal itu tercantum
dalam kitab At-Tibyanfi An-Nahyi An Muqhotoatil Arham walAqoribwal Ikhwan,
sebuah kitab yang dikarang oleh ulama terkemuka Indonesia, Hadratussyekh M.
Hasyim Asy’ari.
Sekilas tentang Kiai Hasyim, beliau lahir di Desa Gedang,
Jombang, pada tanggal 14 Februari 1871 Masehi, bertepatan dengan 24 Zulkaidah
1287 Hijriah. Orang tuanya, Kiai Asy’ari dan Bu Nyai Layyinah memberi nama anak
yang baru lahir itu Muhammad Hasyim Asy’ari. Dan pada tanggal 26 Juli 1947
beliau dipanggil ke hadapan Allah SWT, dalam usia 76 tahun dan disemayamkan di
Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Konon, beliau telah menghafal kitab-kitab babon hadis yang
meliputi Shahih Bukhari, Shahih Muslim,Sunan Abu Dawud, Sunan At-Turmudzi,
Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah, maka dari itu beliau memiliki gelar
“hadratussyekh”, yang berarti maha guru.
Kiai Hasyim sendiri juga terkenal sebagai pendiri sekaligus pemimpin pertama, Rais Akbar
Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia. Walaupun
begitu beliau juga terkenal karena kitab-kitab karangannya yang banyak. Seperti
Kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim, Risalah Ahli As-Sunnahwa Al-Jama’ah, Nurul
Mubin fiMahabbatiSayyidi Al-Mursalin, dan masih banyak lagi.
Adapun kitab At-Tibyan fi An-Nahyi ‘an Muqhotoatil Arham wal
Aqorib wal Ikhwan adalah kitab yang isinya menekankan pentingnya bersilaturahmi
dengan sesama, serta menjelaskan bahayanya memutus tali silaturahmi. Dalam kitab
ini juga memuat Qanun Al-Asasi (Undang-undang dasar) berdirinya Nahdlatul Ulama
serta 40 hadis yang berkaitan dengan organisasi Islam tersebut.
Di permulaan kitab, Kiai Hasyim mengajak pembaca untuk
merenungi ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi yang berkaitan dengan
silaturahmi. Kemudian beliau mulai menjabarkan pengertian silaturahmi disertai
hukumnya, juga beliau menyinggung sedikit definisi mahram, dan hukum
silaturahmi dengan mahram dan selain mahram.
Salah satu hal yang menarik adalah kepiawaian Rais Akbar
Nahdlatul Ulama ini dalam memaparkan dalil-dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadis)
patut diacungi jempol. Penjabarannya sangat singkat namun bernas. Beliau tidak
menyebutkan sanad hadis secara lengkap, dan periwayatnya juga tidak ditulis
semua. Kendati demikian, hampir seluruh isi kitab At-Tibyan dipenuhi dengan
hadis. Contohnya, “Barang siapa yang menyambung aku (bersilaturahmi) maka Allah
Swt akan menyambungnya (memberinya rahmat), begitu juga sebaliknya barang siapa
yang memutus aku (tidak mau bersilaturahmi) maka Allah Swt akan memutusnya
(menunda rahmat nya).” Beliau tidak mencantumkan perawi dan sanad hadis
tersebut.
Kemudian pada pertengahan kitab, Kiai Hasyim menceritakan
sekelumit pengalaman pribadinya dengan guru Thariqah Naqsabandiyah yang sempat
dikuasai oleh setan. Beliau juga menukil beberapa perkataan para ulama mengenai
dosa orang-orang yang memutus silaturahmi.
Di akhir kitab At-Tibyan, Kiai Hasyim menyajikan cerita
ulama mazhab, bagaimana mereka berbeda pendapat dalam masalah-masalah furu’iyah
(masalah-masalah cabang selain akidah), dan meskipun demikian mereka tetap
rukun, tidak ada cibir-cibiran di antara mereka. Dan di sini Kiai Hasyim
menekankan kepada seluruh umat Islam agar tidak saling bertengkar hanya
lantaran masalah furu’iyah, karena hal itu sangat berbahaya. Beliau juga
menasihati kepada kita semua agar tidak berambisi terhadap harta dan kemuliaan.
Karena hal itu dapat merusak agama.
Sesaat setelah kitab At-Tibyan rampung beliau tulis, dari
uang sakunya sendiri, beliau mencetaknya dalam jumlah yang sangat banyak, dan
membagi-bagikan ke kalangan pesantren, tak terkecuali ke kalangan modernis.
Melalui kitab itu, Kiai Hasyim mengajak segenap muslim untuk bersatu-padu,
menjaga tali persaudaraan sesama muslim.



Komentar
Posting Komentar