Perempuan, Pilar Peradaban Bangsa
(sumber gambar: google.com)
Islam yang norma-normanya berasal dari gugusan wahyu Ilahi, telah menempatkan perempuan pada posisi yang sangat terhormat dan mulia sesuai dengan kodrat dan tabiatnya. Wahyu ilahi menempatkan perempuan tidak berbeda dengan laki-laki dalam masalah kemanusiaan dan hak-haknya. Hal tersebut menafikan pemahaman yang berkembang di tengah masyarakat bahwa ajaran Islam bersikap diskriminatif terhadap perempuan.
Dalam perspektif ajaran Islam, antara laki-laki dan kaum
perempuan memiliki kodrat dan tabiat bawaan sejak lahir yang berbeda, baik
secara fisik maupun psikis. Dengan perbedaan yang demikian tidak berarti Islam
memandang laki-laki lebih unggul dari pada perempuan. Islam menjunjung tinggi
perihal kemanusiaan untuk semua makhluk-Nya.
Seringkali kita dengar predikat yang disematkan pada
perempuan tentang keterlibatan emosi yang mendominasi sistem berpikir perempuan
dalam mengambil keputusan. Selain itu standar yang dibuat oleh masyarakat untuk
menjadi seorang pemimpin membuat perempuan sukar untuk berdiri sebagai pemimpin
di sebuah bangsa. Sebaliknya laki-laki dianggap lebih pantas dibandingkan
perempuan dikarenakan laki-laki bisa berpikir secara rasional sehingga tidak
mudah untuk terpengaruh oleh emosi yang bisa membawanya menjadi orang yang
lemah.
Namun hal tersebut harusnya sudah hilang di tengah peradaban
ilmu yang telah sedemikian tinggi dan luas, serta di tengah kecanggihan
teknologi untuk menciptakan banyak kemudahan sebagai upaya penyejahteraan
manusia.
Terbukti dengan keberhasilan para pemimpin perempuan di
pelbagai negara dalam menangani krisis Covid-19. Mulai dari Jerman, Selandia
Baru, Denmark, hingga Taiwan. Para pemimpin perempuan dinilai bisa mengendalikan
penyebaran Covid-19. Selain itu, baru-baru ini sebuah studi menjelaskan bahwa
pendapat soal kredibilitas dan kapabilitas pemimpin perempuan dalam penanganan
pandemi lebih baik daripada pemimpin laki-laki, hal itu adalah satu dari
beberapa bukti layaknya perempuan menjadi pemimpin.
Perempuan mempunyai peran penting dalam membangun peradaban.
Sebab, perempuanlah yang melahirkan dan mendidik anak-anak, generasi masa depan
bangsa. Sebab dari rahim perempuan yang berakhlak akan lahir generasi yang beradab.
Di sebuah anekdot berbahasa Arab disebutkan :
اَلْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلاَدِ إِذَا
صَلُحَتْ صَلُحَ الْبِلاَدُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْبِلاَدُ
Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuan baik maka
negaranya juga akan baik dan apabila perempuan rusak maka negaranya juga akan
rusak.
“Baik” di sini tidak bisa dimaknai secara tekstual saja
namun diperlukan banyak sudut pandang untuk memaknai kata tersebut. Melabeli
perempuan baik bukan hanya untuk perempuan yang berdiam diri di rumah, yang
hanya patuh pada suaminya dan yang tidak bekerja di luar rumah. Namun perempuan
baik dapat menjadi bagian bagi perempuan manapun, dan siapapun.
Peningkatan kualitas perempuan sangat penting melalui akses
peningkatan pendidikan, kesehatan mental dan kebebasan untuk berpartisipasi di
ranah publik. Perempuan yang pertama kali memikul kewajiban sebagai pendidik,
seorang perempuan akan menjadi seorang ibu yang akan menjadi pusat kehidupan.
Seorang ibu memiliki tugas untuk mendidik anak-anaknya dan membentuk budi
pekertinya. Perempuan harus mengenyam pendidikan yang baik karena ilmu
pengetahuan dan intelektualitas seseorang tidak akan berarti apa-apa tanpa
diimbangi dengan watak budi pekerti yang baik. Dan itu hanya bisa didapatkan
melalui pendidikan dari seorang ibu dalam sebuah keluarga.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan
Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, perempuan berperan penting
dalam penanggulangan Covid-19 di Indonesia. Apalagi dengan fakta yang kita
ketahui, tenaga kesehatan dan tenaga medis memang dominan diisi oleh perempuan.
Maka dari itu, menurutnya, peran perempuan sangat penting dan setara dengan
laki-laki dalam hal kekuatan dan semangatnya menghadapi pandemi ini.
Keterangan tersebut mengungkapkan betapa pentingnya peran
perempuan sebagai penentu masa depan bangsa. Nasib negara tidak semata-mata
bergantung pada pemimpin negara, tetapi justru dari segenap elemen bangsa,
termasuk kaum perempuan di dalamnya.
Perempuan memiliki peran strategis dalam kemajuan bangsa. Jika perempuan masih saja mengalami perlakuan diskriminatif dan dimarjinalkan dari akses-akses publik maka kemajuan bangsa menjadi sulit untuk direalisasikan. Maka paradigma kemajuan zaman sudah selayaknya memberikan porsi yang sama antara pemenuhan hak perempuan dan laki-laki.
Perempuan nyatanya dapat menjadi terampil dan berskill. Hadirnya perempuan di ranah publik tidak untuk mengancam posisi laki-laki, namun lebih kepada menjalin hubungan setara nan adil untuk bersama-sama memajukan peradaban dunia.
Kontributor: Balgis Bachmisd
*pertama kali tayang di neswa.id pada tanggal 29 Maret 2021



Komentar
Posting Komentar