Ibu dengan Segala Welas Asihnya
Konteks ini klasik tapi menarik,
seputar ibu dan welas asihnya, " ibu " tema yang sering dijadikan
karya puisi ketika ujian praktik bahasa indonesia, 8 dari 10 siswa/i memilih
tema ibu dibanding tema lainya, siswa yang notabenya anak
laki-laki yang dekat dengan ayah,akan memilih menulis tentang ibu
daripada seorang ayah, terkadang ungkapan kasih sayang seorang anak
kepada ibu dipersembahkan melalui karya klasik yang ditulis diatas lembar
kertas putih dengan bantuan tinta hitam, tapi itu hanya sekedar tulisan "
habis manis sepah dibuang " begitulah peribahasanya, hanya aksara tanpa
makna, padahal, dibalik tulisan itulah terdapat makna yang besar,
bagaimana cara kita menghormati, menyayangi, serta patuh kepadanya, semua
tidak semudah tarian tinta hitam, seseorang lihai mengolah ragkaian kata,
tapi kata serta verba itulah makna asli karya seorang anak kepada
ibunya. " Nduk, tukokno gulo " , berapa banyak dari kita yang
langsung berangkat jika ibu mulai berbicara, faktanya, presentase kata
" Ngko sek, mbok " melebihi 72% persen, hal yang ironis.
Pernahkan terlintas dipikiran kalian
kenapa tema puisi " ibu " sangat digemari?, bukan hanya puisi
tetapi karya tulis lainya yang sering mengangkat cerita tentang seorang
ibu.
Karena ibu adalah sesosok
pahlawan dalam hidup kita, darahnya melekat dalam diri kita, ucapanya
selalu terngiang-ngiang dipikiran kita, senakal-nakalnya seorang anak, jauh
dilubuk hatiya tersimpan sebuah tempat cinta kepada sang ibu. Ibu,
tempat pertama anak memperoleh pelajaran. " Ibu budi, bapak budi
", semua bukan tentang budi, tapi sosok ibu-lah yang akan tersimpan
dimemori kita, ibuku seorang chef, maka aku akan pintar memasak sepertinya,
ibuku sosok yang tegar pasti aku menjadi anak yang tangguh, ibuku seorang ibu
nyai, pasti aku akan menikah dengan gus, tidak, bukan seperti itu. Bagaimana
jika aku mempunyai ibu seorang pelacur, apakah aku akan menjadi seorang
pelacur?, siapa yang akan disalahkan disini?, Ibu?. Tuhan?, atau Aku?. Tuhan
tidak bisa disalahkan dalam hal ini, Tuhan maha adil.
Mungkin anak seorang pemulung tidak
percaya dengan keadilan tuhan, " Kenapa Tuhan memberikanku kehidupan
seperti, aku hanya makan nasi dengan garam setiap hari, paling enak jika ada
hajatan dirumah tetangga baru aku bisa merasakan namanya ayam, mendut, dimana
bentuk keadilan Tuhan?". Tuhan dengan segala rahasianya, IQ manusia
tidak akan bisa mendeskripsikan kehendak Tuhan. Ibu?, ibuku seorang pelacur,
aku menjadi anak haram, tidak ada yang ingin bermain denganku " Ibu,kenapa
ibu menjadi seorang pelacur?, semua penduduk desa memanggilku anak haram, tidak
ada yang ingin duduk satu bangku denganku, aku benci ibu!!" , perempuan
mana yang ingin bekerja sebagai pekerja seks komersial, tidak ada satupun, tadi
keadaanlah yang menuntutnya, melewati pasang surut arus kehidupan, sampai ibu
melakukan hal yang dilarang agama.
Cinta ibu adalah kebahagian,
kedamaian, tak perlu dituntut, pernyataan SM Mochtar tentang kasih ibu dalam
lagunya memang benar adanya, kasihnya akan mengalir, sederas mata air dan
kasih ibu akan bermuara yaitu cinta pada buah hatinya. " Biarkan ibu
menjadi pelacur, tapi anak ibu bisa makan, bisa sekolah, bisa membeli mainan
seperti teman-temanya, ibu hanya berdoa kepada tuhan jika anak ibu seorang
perempuan, ibu tidak ingin dia menjadi pelacur seperti ibu, jika anak ibu
seorang laki-laki, ibu berdoa kepada Tuhan agar dia menjadi laki-laki yang
bertanggung jawab, seorang laki-laki yang menghargai wanita ".
Ibu tidak pernah marah, dia
tidak akan marah jika anaknya memakai lipstik kesayanganya, dia tidak akan
marah jika anaknya menghabiskan uangnya, ibu hanya akan marah jika anaknya
melanggar norma dan larangan agama. Jika kasta masih berlaku di Indonesia,ibu
akan berada di kasta brahmana dengan segala welas asihnya dan seorang
anak akan berada dikasta sudra dengan segala keegoisanya.
Aku?, aku juga tidak bisa disalahkan
disini. Aku terlahir dari rahim ibu dengan bantuan ayah serta kehendak Tuhan,
aku adalah korban, aku ingin menuntut Tuhan, tapi tidak mungkin, itu tidak akan
merubah apapun. Aku ingin menyalahkan ayah kenapa dia pergi meninggalkanku dan
mentelantarkan ibu, tapi aku sadar ayah juga punya jalan hidup. Ibu?, aku marah
kepadanya kenapa ibu melahirkanku didunia tapi aku juga sadar, tanpanya aku
tidak bisa menikmati keindahan ciptaan Tuhan.
Semua sudah ditakdirkan Tuhan,
untukku dan juga ibu. Tuhan akan memberikan award bagi dia yang bersabar
menghadapi cobaan-Nya, DIA akan memberikan sesuatu yang mengalahkan dunia
seisinya, kita adalah ciptaan Tuhan, yang hanya mampu menerima dan berusaha.
Untukmu ibu, engkau tidak salah, engkau adalah malaikat tanpa sayap yang
dikirim Tuhan untuk menjagaku di dunia, untukku kamu tidak salah, kamu adalah
anak yang lahir dari seorang perempuan yang hebat, berbahagialah meskipun
hidupmu tak seindah anak seorang raja. Terimakasih atas segala welas asihmu,
ibu , maafkan anakmu ini yang menuntut ini dan itu. Kisah ini tentang ibuku,
ibumu, ibu kita dengan segala welas asihnya.
Salam hangat
penulis
Oleh: Tazkiya Aulia Azfin
*Pertama kali tayang di kompasiana.com pada 26 Oktober 2020



Komentar
Posting Komentar