Sebelah Mata

Sumber foto: Pinterest

    Sudah sepatutnya menjadi muslim, kita harus taat dan giat dalam beribadah, terutama salat. Begitu pula yang dilakukan masyarakat Desa Tresno. Dalam menjalankan ibadah salat, mereka selalu berupaya keras agar dapat berjamaah di setiap 5 waktu dan salat jumat.

    Tapi, hal itu menjadi rumit saat salat jumat berlangsung. Sebab hanya ada satu masjid di desa itu, dan jamaah meluber hingga ke jalan dan mushalla di bagian timur masjid itu. Karena hal itu sudah berulang kali terjadi, Kiai Huda menjelaskan sedikit tentang salat jamaah di dua tempat yang berbeda di sela-sela pengajian rutin yang beliau berikan kepada masyarakat. Dalam perkataannya beliau menjelaskan kalau jamaah yang berada di shaf bagian depan mushalla tidak sah tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.

    Di dalam majelis itu ada Rahman yang ikut mendengarkan pengajian. Karena kebiasaan Rahman yang harus mendapat penjelasan detail terhadap sesuatu dan tak mau menerima sesuatu secara mentah-mentah. Dia merasa bingung dengan apa yang diutarakan Kiai Huda namun, ia juga tak berani bertanya sebab aura wibawa yang terpancar dari kiai sepuh tersebut. 

    Tak mau hidup dalam rasa penasaran, Rahman pergi ke rumah Gus Ipul, anak dari Kiai Huda yang ia anggap dapat menjawab pertanyaannya tanpa rasa sungkan. Sebab Gus Ipul sendiri adalah teman sepermainannya sejak kecil. 

    Dengan membawa papan dam-daman sebagai bahan alasan mampir ke rumah Gus Ipul sore itu, dia mengtuk pintu rumah orang yang akan diajaknya bermain dam-daman itu. 

    “Tok... Tok... Tok... Assalamualaikum”

    “Waalaikumsalam, eh Man udah dateng ternyata. Duduk-duduk ayo, sekalian siapin papan dam-damannya”.

    Rahman duduk sambil menata papan dam-daman yang ia bawa, sedangkan Gus Ipul memintakan minum kepada istrinya untuk si tamu lalu kembali ke meja teras rumah tempat si tamu berada. Mereka lalu bermain dengan serius hingga Rahman membuka percakapan mengenai apa yang ia bingungkan saat pengajian itu. 

    “Eh gus, aku lagi bingung gus”.

    “Bingung kenapa? Coba cerita deh”. Gus Ipul menjawab Sembari tetap fokus pada permainan di hadapannya. 

    “Nganu gus, abah njenengan kemarin waktu ngaji rutinan sempat menjelaskan sedikit tentang salat jamaah. Kalau jamaah salat jumat yang ada di shaf bagian depan mushalla timurnya masjid itu tak sah tanpa penjelasan lebih lanjut. Kan, jamaah salat jumat yang ada di mushalla timurnya masjid itu ada karena semangat dan antusias masyarakat untuk jamaah walau masjid tidak mencukupi, terus bagaimana gus?”

    “Oalah, gitu to Man”. Jawab enteng Gus Ipul dengan lagi-lagi tetap fokus pada papan dam-daman. 

    Kebingungan Rahman semakin bertambah. Bingung dengan persoalan kemarin dan bingung dengan sikap Gus Ipul. Tak mau digantung, Rahman bertanya ke Gus Ipul untuk menegaskan. 

    “Jadi gimana Gus jawabannya? Jangan Cuma oalah gitu dong”.

    Setelah menjalankan salah satu bidak dam miliknya, Gus Ipul berkata, “Sek to Man. Aku kan juga harus fokus dengan permainan ini”.

    “Hehe, maaf Gus. Jadi gimana?”.

    “Gini lo Man, memang besarnya antusias masyarakat dalam berjamaah terutama salat Jumat itu baik, tapi juga harus sesuai dengan ketentuan fikih. Masyarakat kita kan bermazhab syafii jadi harus sesuai dengan ketentuan-ketentuannya dalam masalah jamaah ini”.

    Rahman masih bergeming dengan penjelasan Gus Ipul. 

    “Nah, dalam ketentuan salat jamaah itu dijelaskan kalau salat jamaah di dua bangunan yang berbeda itu ada syaratnya, apalagi antara masjid dan mushalla timurnya itu”.

    “Syarat? Apa aja itu Gus?”.

    “Ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan salat jamaah di dua bangunan itu. Pertama tidak adanya hail atau dalam bahasa kita penghalang yang dapat menghalangi kita untuk melihat dan berjalan ke arah imam atau makmum paling belakang di depan kita tanpa harus berbelok atau mundur”. Jelas Gus Ipul. 

    “Terus apa lagi Gus?”.

    “Kedua, jarak antara bangunan kedua dan bangunan pertama tempat imam salat tidak lebih dari perkiraan tiga ratus dzira' atau setara dengan 144 meter. Lalu yang ketiga adalah adanya rabith atau penghubung antara makmum dan imam sehingga makmum tau salatnya imam”.

    “Oh gitu ya Gus, terus hubungannya sama jamaah yang salat di shaf bagian depan apa Gus?”. Tanya Rahman agar lebih memahamkan. 

    “Jadi gini Man. Orang yang salat di shaf depan mushalla timurnya masjid itu tak sah karena tidak mencukupi tiga syarat itu”.

    Rahman lagi-lagi diam hikmat mendengarkan penjelasan Gus Ipul. 

    “Memang benar jarak antara mushalla timur masjid dengan masjid hanya sepuluh meter. Tapi jamaah yang berada di shaf depan mushalla itu kan tidak dapat mengetahui salat sang imam atau makmum paling belakang. Di sana juga kan ada tembok yang menghalangi makmum di shaf bagian depan mushalla itu, sehingga tak dapat melihat dan berjalan langsung tanpa berbelok dan mundur menuju imam. Itu yang namanya hail. Oleh karena itu, orang yang salat di bagian depan shaf mushalla itu tak sah jamaahnya”.

    “Oh jadi gitu to Gus. Kalau gini kan saya jadi paham dan tak penasaran lagi”. Jawab Rahman dengan wajah yang sumringah. 

    “Iya Man. Aku juga senang kalau ada orang yang mau bertanya terlebih dahulu setelah dapat suatu informasi. Lagipula bukankah kita sebagai sesama umat Islam harus saling bantu membantu?”. Timpal Gus Ipul merasa bahagia pula. 

    “Hehe iya Gus makasih ya!”.

    “Iya, sama-sama. Udah, seakarang jalankan bidak-bidakmu itu!”. Ajak Gus Ipul. 

    “Hehe, sebelumnya maaf Gus, ini udah sore. Aku balik dulu ya. Besok kita lanjut lagi mainnya”. Elak Rahman karena sudah tau posisinya yang akan kalah. 

    “Lealah, yowes ga apa-apa. Ati-ati ya di jalan”. Lepas Gus Ipul mengiringi Rahman yang pulang tanpa rasa kebingungan. 

*Diolah dari hasil Bahsu Al-Masail MANPK Jombang

Oleh: Muhammad Ainul Irfan Maulana


Komentar

Postingan Populer