FASTABIQUL KHOIROT
FASTABIQUL KHOIROT
Sumber : bola.com
Terkadang
aku berlari. Mengada sesuatu tang tiada. Mengharapkan ekspetasiku berealita.
Juga terkadang aku termenung. Memikirkan hal-hal yang mengapa. Sedikit pejamkan
mata menyaring tanda tanya. Sering juga aku bergulat dengan haluku. Gaji
buta jika orang lain kata. Seakan dunia hanya milikku dan imajinasiku.
Angan meraja. Lupa tak jadi apa.
Kecilku kerap bertanya mengenai
sang Kholiq. Apakah dia? Siapakah dia? Dia itu apa atau siapa? Mengapa dia?
Dimana? Dan ribuan tanda clurit di pikiranku. Ribuan lontaran jawaban
menyergapku. Tapi nihil saja. Ku tak dapat kepuasan darinya. Dari semua itu aku
tahu akan sebuah kebenaran. Tak akan ada yang puas dengan muluk nya
kepemilikan. Mungkin orang tuaku lelah tuk jawab soalanku. Ketika promosi ke
SMP mereka mengirimku ke penjara suci. Tempat yang di mana penduduknya berjuluk
santri. Dan di sinilah ceritaku akan dimulai.
Seperti hari biasanya. Matahari
masih satu dan terbit dari timur. Ribuan bintang masih bisa kunikmati di
syahdunya malam hari. Walau masih dengan tanda clurit yang sama.
Seketika kejenuhanku melancip. Seluruh area memudar. Hanya meninggalkan warna
putih dan kelamaan menghitam.
Tiba- tiba aku berada disebuah gurun
yang luas, kemerah-merahan, nan panas. Aku mendengar adzan yang luar biasa. Aku
pun mencari sumber suara tersebut. Aku menemukannya, ternyata ada seorang
berwajah hitam bergigi putih. Suaranya sangat merdu dibunyikan di bangunan yang
paling tinggi di daerah itu. Lalu selepas adzan ia langsung menghampiriku dan
berkata :
“ Assalamu’alaikum.”
“ Wa ‘alaikumussalam.”
“ Sholli maghrib.”
Sontak aku terbangun. Perutku
teramat lapar hingga pikiranku bertamasya entah ke mana. Mungkin akibat tadi
pagi telat bangun, sehingga segelas air pun tak mampu ku raih. Seluruh santri
sudah mengular berebut takjil. Karena sadar 100% aku langsung berlari
ikut menjadi ekor ular. Dan akhirnya, kegelisahan perutku sedikit teratasi.
Setelah sholat maghrib dan makan.
Perutku menjelma. Mungkin karena terlalu banyak sambal yang ku lahap. Sehingga
kamar mandi menjadi destinasi wisataku selanjutnya. Di tempat terbitnya
inspirasi tersebut —walau bercampur dengan
sedikit harta karun, aku mulai memikirkan clurit
tadi —dengan sedikit ngeden,
sehingga muncullah sebuah narasi :
ketika ku cari arti
seribu dewa kan ku temui
sulit dipahami susah ku mengerti
menunggu sari sebuah prasasti...
Akhirnya rangkaian tarawihan
ku lalui dengan sempurna. Karena malam jum’at dan ngaji malam libur, aku
bergegas menuju kamar membanting tubuhku ke kasur yang empuknya agak terkikis sembari
berdo’a dan pejamkan mata.
Allahu akbar... Allahu akbar....
Aku mendengar adzan yang sama.
Mimpi tadi sore terulang kembali. Tapi, kali ini ia mendatangiku tidak
sendirian. Dia bersama robot kecil berkaki roda.
“ Ilaik!” Katanya sebelum
debu pasir menyapunya.
Di kesunyian itu hanya tinggal aku
dan si robot kecil. Dia berjalan dengan keempat rodanya dan aku pun ikut
dibelakangnya. Lalu dia mulai mengajakku berbincang dengan suara khas robot
miliknya.
“ Hallo!”suara khas
robot menghampiri daun telingaku
“ Hai!”
“ Apakah kau mengenalku?”
“ Seharusnya iya. Tetapi, aku
tidak mengenalmu.”
“ Namaku Khawarizmi.” tiba-tiba
badai besar muncul dari arah belakangku.Lalu dia menghilang tak tau entah. Aku
mencarinya sampai...
Kriiing....Kriiing....Kriiing....
Bel yang paling aku benci
terdengar kembali. Aku terbangun dari tidurku dan kembali mengumpulkan seluruh
nyawaku. Lalu aku beranjak dari singgasanaku dan segara menuju masjid untuk
sholat malam.
Pagi ini, kulalui dengan baik-baik
saja. Setelah pengajian sejak ba’da shubuh sampai jam 11 siang, huh,
sangat mengantukkan. Karena qira’ah di masjid sudah terdengar,
aku langsung bergegas menuju masjid untuk sholat jum’at dengan badan yang masih
segar —karena sehabis mandi dan menghardik bajuku
dengan minyak wangi yang semerbak. Setelah sholat jum’at aku pergi
keluar pondok sebentar untuk membeli tasbih. Dalam perjalanan pulang, aku
melihat kakek yang tua renta sedang berusaha menuju seberang jalan. Tanpa ragu
ia pun aku datangi. Aku mengantarnya sampai seberang jalan. Namun sayang,
tasbih yang baru saja ku beli terjatuh dan terkena kotoran sapi setelah
teraniaya pick up pembawa sapi yang melintas —walau
pelan jalannya.
Aku pun pergi
meninggalkan kakek tersebut dengan senyuman manisku. Dua langkah ku berjalan,
kakek tersebut menarik tanganku lalu memberikan kepadaku sebuah jam tanpa
berbicara sedikit pun. Aku melihat jam itu sejenak dan ketika hendak bilang
terima kasih kakek itu menghilang entah ke mana. Aku tidak menghiraukannya lalu
aku bergegas kembali ke pondok dan ingin segera tidur —efek pengajian pagi
tadi. Lalu aku membanting badan kecilku ke kasur yang sudah terkikis tebalnya.
Ketika hampir
meraih dunia mimpi. Seketika jam tadi berdering. Aku pun mengambilnya dari atas
lemari ku. Ku amati jam tersebut dengan ketat. Di sekiling jam itu tidak ada
tombol sedikit pun, tali jam yang hitam mengkilap, dan berangka arab. Aku pun
sedikit menyekanya lalu jam itu menarikku tanpa ampun dan aku tertelan olehnya.
Keheningan nyata
ada di sini. Di sebuah rumah kaca. Semuanya berkaca. Sehingga memantulkan
semestanya. Lalu ku memutar jiwa dan raga ku dan aku melihat dua pintu dari
arah yang berbeda. Aku pun berjalan menuju pintu yang berada di depanku. Aku
membukanya lalu masuk kedalamnya. Setibanya di dalam dengan beberapa langah,
tita tiba pintu tersebut tertutup. Ku melangkah dan mencermati seisinya.
Tiba-tiba muncul beberapa angka di beberapa sudut.
Angka-angka 1-9
bermunculan. Tak lama kemudian, jam dari kakek tua itu menyala dan memuntahkan
sebuah kaca transparan yang bertuliskan, “ 100=... 99=... 1=...”. Juga
di bawah itu, “ Cintai yang kau punya dan punya akan kau.”
Kebingungan
melanda ketampananku. Aku coba berpikir
seluas samudra pasifik dan sedalam palung mariana. Lalu aku
mengingat kapan datangnya jam ini —karena melihat jam yang ku kenakan dan angka
1 di kaca tersebut— yaitu hari ini jam 1 siang. Aku juga ingat kakek renta yang
memberikannya. Flash back ku hanya sampai khutbah jum’at dan yang ku
ingat, sang khatib melantunkan dua potong surat tentang keesaan Allah, yaitu
pungkasan surat al-Hysr:
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ
ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٢٤ )
dan awal surat
al-Ikhlash
قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ۚ(١)اَللّٰهُ الصَّمَدُ ۚ(٢)
Ada beberapa hal
yang ku pahami dari kedua penggalan surat tersebut. Seketika mulutku bergumam
dengan sendirinya :
apa kau tau siapa
Ia
Allah itu
pencipta
asmaul husna
untuknya
adil dan
bijaksana
satu tiada dua
payung si
pentasbih dan si pendo’a
Lalu aku
kaitkan gumaman itu dengan pikiranku.
Cintai yang kau punya dan punya akan kau mungkin maksud dari Allah
sang pencipta juga maha adil yang mencintai seluruh ciptaan-Nya. Lalu 99 asmaul husna. Allah itu juga esa
atau yang berarti satu. Lalu dengan tasbih ku yang terjatuh tadi mungkin ada
hubungannya.
Karena ku
berpikir angka 99 itu asmaul husna, angka 100 adalah jumlah tasbih jatuh
ku, serta satu adalah al-Ahad yaitu esa, dan semua itu ada kaitan nya
dengan Allah. Maka aku mengambil angka satu di pojok paling depan, dan ketika
aku menyentuhnya tiba-tiba “...duarrr!!!”, memunculkan robot
kecil yang ternyata itu adalah Khawarizmi, robot dalam mimpiku tadi. Lalu ia
memberiku kaca lagi yang bertuliskan “ 100-99-1” seraya bekata :
“ Ini
soalan terakhir, jawabannya ada di hatimu.”
Ahh, aku muak dengan
basa-basi ini. Otak netral ku dikeruhkan pertanyaan yang sangat melingkar. Aku
berpikir sekeras apa pun. Kemudian mencobalah sang aku mengaduknya dengan yang
tadi. Sejenak aku berpikir lagi mengenai interpretasi dari jawaban lampau ku.
Angka 100 seperti kesempurnaan ( presentasi yang sempurna yaitu 100% ). Ketika
kedua tangan ku pinta si kiri menunjukkan ٨١ ( 81 dari angka arab ), lalu si kanan menunjukkan ١٧ ( 17 dari angka arab ) dan 99
lah jumlah keduanya. Lalu angka satu, sejenak ke merenungkan lagi.
Beberapa saat aku
merenung, aku berpikir bahwasanya angka 1 adalah induk yang melahirkan seluruh
angka setelahnya. Apakah itu Allah? Apa berhubungan dengan soalan sebelumnya?
Lalu alu mengucapkan yang aslinya bukan jawaban :
“ Dunia tanpa
pinta akan sirna.”
Tiba-tiba sebuah lubang
muncul tepat di pijakanku, aku dan si robot pun terperosok kedalamnya dan
sampailah kita di rumah kaca yang tadi,
tapi sekarang hanya tinggal terbuka satu pintu. Ketika sudah di dalam, sama
seperti tadi pintunya tertutup seketika. Aku melihat kanan-kiri, atas-bawah,
depan-belakang dan semua hanyalah kaca ungu yang transparan dengan gedung yang
menjulang seperti kota yang sangat modern. Tidak ada bangunan yang lebar
semuanya tinggi menjunjung langit. Aku terkejut. Alasnya berupa kaca ungu
serupa namun memantulkan objeknya.
Gedung-gedung itu
memunculkan tulisan “ Pintu tak mungkin terkunci selamanya.” Aku pun
membacanya berulang kali. Lalu si Khawarizmi berkata :
“ Yang kau lihat
semua ini adalah pertanyaan. Jika kau ingin pulang, kau harus menjawabnya.”
Aku pun menyusuri kota tersebut dengan selalu memperhatikan pertanyaan
itu. Dan akhirnya, peristiwa lampauku bermunculan. Aku ingat tiga potong ayat
dari ustadzku di pengajian pagi tadi, yaitu surat al-Baqarah ayat 148 :
...وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ
surat al-Hujurat ayat 13 :
...إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ
أَتْقَىٰكُمْ...
dan surat an-Nisa’ ayat
78 :
... ۚ أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ
وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Sambil duduk di kursi transparan tepi jalan. Khawarizmi memberiku tiga
kaca dan sebuah. Kotak mangsi. Dia terdiam saja dan aku juga hening tanpa
tanya. Lalu aku menulis ketiga potong ayat tersebut.
“
Apa yang kau tulis?”
“
Entah, aku hanya mengingat pengajian tadi
pagi.” jawabku sembari melanjutkan kata-kata yang memenuhi otakku
“ Apa kau paham maksudnya?”
“ Ada sedikit yang bisa ku pahami. Kebaikan tak mengenal arah, jika kita
berlomba-lomba dalam kebaikan, apa susahnya? Setiap orang itu berbeda harta,
tahta, maupun kasta, disela-sela tersebut ada pembatas yang bernama taqwa.
Benteng sekeras apa pun tak bisa terhindar dari gerimis, di mana pun kau
berlari kau tak kan bisa sembunyi, lalu apa gunanya menghindari ajal pati?”
Ketiga lembar kaca tersebut menyatu. Namun dengan ukuran yang sama saja
dan goresanku tadi juga tak membekas. Kemudian Khawarizmi berseru sambil agak
tertawa.
“ Kau temukan
jawabannya. Tulis saja di situ, tapi hanya satu kata saja yang bisa kau tulis.”
Aku disuruh berpikir lagi. Semuanya ku simpulkan tapi ku tak mendapatkan
satu kata pun. Terlalu lama berpikir, lalu ku menulis “kebaikan” dan
tiba-tiba kaca itu pecah membelah tengah. Sontak aku pun bertanya.
“
...a apa yang terjadi?”
“
Jawaban mu salah.”
“
Terus, ini bagaimana?”
“ Kaca yang tadi
terbagi dua. Satu digenggamanmu dan satu lagi menjadi serpihan. Kau masih bisa
menulis jawaban selagi masih ada kaca yang utuh.”
Pikiranku semakin
mengkritis. Sihir pun tak ku anggap lagi magis. Semua tokoh menjadi antagonis.
Suntuk. Untung kakiku masih mampu berjalan. Aku dan Khawarizmi berkeliling lagi
di kota ungu tersebut sambil sedikit berbincang dengannya. Lalu tiba-tiba aku
mendengar seperti suara si hitam yang adzan kemarin. Tapi kali ini ia tidak
adzan, melainkan iqamah. Tetapi aku tidak menemukannya. Lalu muncullah narasi
ini :
tak
setiap api bisa membakar
tak
semua air itu dingin
sangkakala
itu pasti
nyata
dan hakiki
jangan kau sia-siakan
milikmu
Aku interogasi narasiku dan ku padukan dengan dengungan iqamah tadi.
Pikiranku tak habis berhenti. Tiba-tiba terlintas saja dipikiranku jika iqamah
adalah panggilan yang menandakan akhir dari panggilan lain —maksudnya adzan.
Lalu tanpa ku restui tangan kananku menuliskan “kepastian” di pecahan
kaca itu.
Aku pun kembali ke
kamarku. Tak ada sesiapa di situ. Khawarizmi juga tak ada di sebelahku. Jam
yang aku kenakan berevolusi menjadi tasbih yang serupa dengan tasbih jatuh ku.
Aku pun bergegas ke masjid —berlomba-lomba dalam kebaikan maksudku. Aku ambil
al-Qur’an dan mencoba menghayati maknanya. Mulut ku komat-kamit dibasahi wirid
dan do’a. Ketika waktu adzan tiba, langsung aku berlari menggapai microphone
dan mengumandangkan adzan semerdu-merdunya. Ku tak beranjak dari masjid kecuali
ketika hendak mandi, ketika waktu mengaji tiba, tentunya saat waktu sahur dan
berbuka —karena kala itu Bulan Ramadhan.
Wallahu a’lam bi
ash-Showab
Seluruh suasana ricuh. Yang awalnya mengantuk jadi bersemangat.
Pengajian sampai lingsir wengi memang melelahkan. Seluruh santri pun
berpencar mencari kebebasan. Karena tidak ada rencana. Aku membuka lagi kitab
kuning yang barusan di kaji. Lalu entah kenapa timbul sebuah narasi :
...
ketika ombak mencari mangsa
di
situ lah lautan kan ku belah dua
mengabaikan
pepatah katakan petaka
temui
mutiara, intan, permata
Malam yang sangat tenang. Aku menyukai suasananya. Tiba-tiba saja
Khawarizmi kembali lagi. Kami pun bercakap-cakap.
“ Loh, kamu.” respon ku seketika melihat ia sudah ada di hadapanku
“
Iya, aku Khawarizmi.”
“
Kamu nyata? Kenapa ada disini?”
“
Aku hanya ingin ucapkan perpisahan
kepadamu. Tuanku mengutusku untuk menjawab soalan orang-orang yang tulus
hatinya. Kamu adalah salah satu di antaranya. Kamu telah bertanya dan semua
pertanyaanmu sudah terjawab. Tugasku sudah selesai. Aku harus kembali kepada
tuanku. Kakek tua yang kau tolomh waktu itu sampai jumpa.”, ucap
khawarizmi sebelum menghilang begitu saja.
Setelah
beberapa kejadian tersebut. Aku menjadi pribadi yang lebih baik. Aku selalu
berebut garda terdepan masjid. Selalu berusaha menjadi muadzin. Mengaji dan
mengkaji. Mencoba mendekati dzat Allah yang maha esa. Menolong teman yang dalam
kesusahan juga selalu mengajak temanku mengingat siapa Tuhannya. Ku kerahkan seluruh
perbuatanku dalam mengarungi kebaikan selagi masih ada masanya. Tak peduli apa
pun yang terjadi.
Dari
seluruh kejadian luar biasa itu, bisa aku pahami. Aku tak perlu sebegitu sering
mencari perwujudan Allah. Aku tak perlu membayangkan sebetapa agung dzat-Nya.
Namun dengan berbuat kebaikan aku yakin bisa mengetahui-Nya. Dan dengan
kebaikan dan keyakinan “nothing is
impossible.”
“THE END”
Juara 1 lomba menulis cerpen SMA tingkat Nasional di Sonic Linguistic MAN IC Serpong


Komentar
Posting Komentar